My Mind Goes Here

Senin, 27 Mei 2019

Between Books and Reality

I just finished reading Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan and now I am feeling empty.

No, I am not feeling empty because this book is bad, but the other way around, this is a very good book that will give you a story with interesting background and characters and you will understand that Eka Kurniawan did really good research to build the setting. 

This is a surrealism-historical novel that tells the reader a story about Indonesia, or specifically Halimunda in before and after independence, through some complicated yet interesting stories of a family whose problem with their beauty. 

There are some parts where Eka put 18+ stories. Hence this novel basically not safe for children but safe for me hahaha.

Okay, back to the topic why I am feeling empty right now. It is because after I finished reading this book, that means I have to get back to reality where everything seems chaotic. Yeah, that’s it.

Someone said that reading book is an escape from reality.

At first, I didn’t agree with that. My books are mostly Indonesian classic novel that is written based on history. When I read Max Havelaar by Multatuli, I read it because I wanted to know how bad it was when Indonesia being colonialized by the Dutch. 

I knew the novel is not a historical book which describes accurately what happened in the past. But still, the author wrote it based on particular and actual events and try to help us understand what’s going on and build our empathy through not-so-fiction story.

And I was thinking, how come reading book becomes an escape from reality when everything I read was a reality?

But I realized that I was (or might be) wrong.

Back then when I was writing my undergrad thesis, I found myself overwhelmed by reality. There were many things to think of, many things to be done, and many deadlines. Not to mention the pressure that came from outside e.g. expectation from my family to graduate as soon as possible. 

During a hard time, out of the blue, I reached one of my books and start reading. Page by page, I lost myself to the world that has been built by the author. Every word was telling a story that I’ve never known before.

The moment when I was taking a minute to rest my eyes, I finally understood that I just read to escape reality. I was leaving my burden behind to fell into the new world. I run away from one reality to another reality.

So, what is the point of this writing?

It is actually nothing. 

Perhaps, the reason why I write has the same reason why I read books?

I just want to run away from reality for a moment. 

And at this time when you are reading my writing,

it is the time when you are running away from your reality...

...to my reality.


Senin, 18 Februari 2019

Apa Itu Startup Unicorn? Yang Online-Online, ya?

Ternyata masih banyak yang belum mengetahui secara rinci yang dimaksud dari startup unicorn, ya? Saya juga baru tahu secara rinci waktu nulis ini, kok. Jadi pak prabsky tidak sendirian.

Bukan, pengertian startup unicorn bukan cuma yang online-online saja. Lalu, startup seperti apa yang bisa disebut unicorn?

Sebelum membahas unicorn, kita bahas dulu apa itu startup dan apa bedanya dengan bisnis tradisional. Bisa langsung loncat ke pembahasan unicorn jika Anda sudah paham tentang startup.

Pengertian Perusahaan Startup

Dahulu, pengertian perusahaan startup sebatas pada perusahaan yang baru saja dirintis dan berada di dalam fase pengembangan. Ada yang menyatakan kalau perusahaan startup itu berusia kurang dari 3 tahun, jumlah pegawai kurang dari 20 orang, dan lain sebagainya.

Tapi, saat ini definisi perusahaan startup telah berkembang. Perusahaan startup mengacu pada perusahaan yang baru berkembang dan kebanyakan menggunakan teknologi untuk menjalankan core business-nya (meskipun tidak selalu fokusnya pada teknologi).

Ada yang mengartikan juga kalau sebuah perusahaan startup itu bersifat menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat sehingga membawa dampak disruptive pada bisnis yang sudah ada. [1]

Perbedaan perusahaan startup dengan perusahaan tradisional terdapat pada cara pandang perusahaan dalam melihat pertumbuhan bisnisnya. [2]

Jika bisnis tradisional seperti restoran hanya menargetkan konsumen di sekitar wilayah restoran itu berada, namun berbeda dengan startup yang menargetkan konsumen dengan jangkauan yang lebih luas. Target pasar dari startup bisa beberapa kota, negara, bahkan internasional sehingga pertumbuhan bisnisnya lebih cepat.

Perusahaan startup memang didesain untuk memiliki pertumbuhan yang tinggi dengan target pasar yang luas. Karena target pasar yang luas ini pula, teknologi lah yang menjadi andalan untuk menjalankan core business-nya. Saya ambil contoh perusahaan startup favorit saya, yaitu Zenius Education.

Zenius Education telah berdiri sejak tahun 2007. Perusahaan yang mempunyai core business dalam bidang pendidikan ini berusaha menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia dengan menghadirkan proses belajar secara online.

Zenius juga menjadi disruptive dalam bisnis bimbel tradisional, dengan jangkauan pasar yang lebih luas karena mudah diakses dengan bantuan internet serta memberikan cara belajar yang baru. Perusahaan ini sekarang berada dalam urutan keenam sebagai startup terbaik di Indonesia. [3]

Sudah terbayang, kan, tentang perusahaan startup?

Picture: Liam Macleod on Unsplash


Pengertian Perusahaan Startup Unicorn

Istilah unicorn muncul pertama kali pada 2013 dari Aileen Lee, pendiri Cowboy Ventures, untuk menggambarkan perusahaan startup yang berumur kurang dari 10 tahun dan mempunyai nilai valuasi lebih dari US$ 1 miliar. [4]

Kenapa memilih kata “unicorn”? Anda pasti sudah bisa menebaknya sendiri. Hewan mistis ini dipilih untuk menggambarkan keistimewaan atau kelangkaan—tidak banyak perusahaan strartup yang mampu menyentuh nilai valuasi lebih dari US$ 1 miliar!

Dalam hal ini, Indonesia bisa berbangga. Di Asia Tenggara terdapat 10 perusahaan startup yang mempunyai title unicorn [5], dan 4 di antaranya berasal dari Indonesia. Keempat perusahaan tersebut adalah [6]:
  1. Gojek dengan nilai valuasi sebesar US$ 10 miliar.
  2. Tokopedia dengan nilai valuasi sebesar US$ 7 miliar.
  3. Traveloka dengan nilai valuasi sebesar US$ 2 miliar.
  4. Bukalapak dengan nilai valuasi sebesar US$ 1 miliar.
Selain istilah unicorn, ada juga istilah decacorn yaitu perusahaan startup yang berusia di bawah 10 tahun dan mempunyai valuasi lebih dari US$ 10 miliar, serta hectocorn atau super unicorn yaitu perusahaan startup yang berusia di bawah 10 tahun dan mempunyai valuasi lebih dari US$ 100 miliar contohnya perusahaan Facebook.

Dari tadi nyebut valuasi terus, ya? Apa sih valuasi itu?

Sederhananya, valuasi adalah nilai ekonomi dari sebuah bisnis. [7] Kalau ada yang ingin mengakuisisi atau ingin membeli suatu perusahaan, ia harus menyiapkan uang sebesar nilai valuasi perusahaan tersebut.

Contohnya pada tahun 2012 Facebook mengakuisisi Instagram seharga US$ 1 miliar sesuai dengan nilai valuasinya. Atau jika Anda tiba-tiba punya banyak uang dan ingin mengakuisisi Gojek, siapkan saja uang sebesar US$ 10 miliar dan Gojek akan menjadi milik Anda!

Nah, sekarang saya sudah paham, dan Anda pasti juga sudah paham kalau perusahaan startup unicorn itu bukan cuma yang online-online saja, kan?


Referensi


Blog

Blog

Copyright © Dimas Fajri's | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com