My Mind Goes Here

Rabu, 11 Maret 2015

Logical Fallacy


Pernah gaksih ketika lo lagi debat sama orang lain atau lo lagi dengerin orang lain berdebat terus lo ngerasa janggal sama argumen dari salah satu pihak? atau mungkin lo pernah baca berita yang janggal dan ngerasa berita itu “menggiring” opini publik dan bisa menyebabkan salah tafsir?

Mungkin kasus itu bisa disebut dengan logical fallacy atau kesesatan berpikir. Sebenernya gua baru tau tentang logical fallacy itu sekarang. Gua sering baca di twitter ada orang yang mengomentari argumen orang lain dan menyangkut pautkan sama logical fallacy ini, tapi gua gak tau artinya. Karena penasaran, akhirnya gua search di google.

Logical fallacy atau Kesesatan penalaran menurut wikipedia yaitu kesesatan berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi), bisa juga dibilang cacat penalaran. Logical fallacy terjadi pada orang-orang yang penalarannya terbatas, tapi bisa juga disalah gunakan sama orang-orang tertentu kayak media ataupun para politikus untuk mempengaruhi orang lain.

Contohnya, Lo pergi ke dukun buat minta jodoh biar lo gak jomblo lagi. Ternyata, pas pulang dari dukun kaki lo kepaduk batu dan jatuh nabrak orang, pas lo liat ternyata dia gebetan lo yang udah lama gak ketemu (((skip))) akhirnya dia juga suka sama lo dan kalian pacaran. Disitu lo berpikir, “Wah ampuh juga tuh dukun! Berkat dukun itu gua jadi dapet jodoh!”

Nah,  di situ terjadilah logical fallacy, sesuatu yang terjadi secara berurutan bukan berarti berhubungan sebab akibat.Post-hoc ergo propter hoc. Orang cenderung menarik kesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama.

Itu baru satu jenis dari logical falacy dan masih banyak yang lainnya.

Ternyata logical fallacy ini ada sangkut pautnya sama BAB Logika matematika yang di pelajari pas di kelas satu SMA. Lo pasti pernah belajar logika pas kelas satu SMA, kan? Nah pasti gak asing sama yang namanya pernyataan sah dan tidak, penarikan kesimpulan yang benar atau tidak. Premis 1: Jika P maka Q, premis 2: Jika Q maka R, Kesimpulannya? Jika P maka R.

Ternyata, pelajaran sekolah yang bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari itu jauh lebih mengasyikan dan menantang. Akankah gua belajar tentang logika ini saat kuliah nanti? gua harap iya.

Tulisan tentang logical fallacy ini cuma pendapat orang awam yang baru mempelajari tentang ilmu tersebut. Maaf kalo ada yang salah, dan mohon dikoreksi kalo ada yang salah. Karena sesungguhnya saling berbagi pengetahuan itu suatu bentuk ke “cool”-an tersendiri. *abaikan
____________________
Reference:
id.wikipedia.org/wiki/kesesatan

0 komentar:

Posting Komentar

Blog

Blog

Copyright © Dimas Fajri's | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com